Pages

Ads 468x60px

Labels

Jumat, 03 September 2010

Sinopsis Novel "Pertemuan Dua Hati"

Pertemuan Dua Hati.
Oleh : Satriyo Nugroho

Sekali aku terkejut oleh suara yang tiba- tiba ini. Aku menoleh ke arah si pembicara, murid perempuan. Semua murid laki – laki mengatakan bahwa, kelas akan tenang jika tidak ada dia. Saya siswa merasa heran mengetahui Waskito semakin dihindari kawan sekelasnya.
Tiba – tiba ada seorang murid yang mengatakan bahwa Waskito mempunyai kelainan, dia suka memukul dan menyakiti siapa saja. Ternyata perkataan murid itu memang benar. Mereka pernah disakiti. Namun saya di pukul karena bertengakar, namun teman – teman yang lain tidak pernah bertengkar dengan Waskito. Sesaat tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Aku memandang sekiling. Kuusahakan agar suasana tetap terbuka. Murid – murid harus tetap merasa leluasa mengeluarkan isi hati mereka karena dengan cara demikian aku akan lebih mengetahui siapa Waskito itu.
Semua murid selalu berdusta kepada orang tuanya jika dipukul Waskito. Mereka takut dimarahi karena bertengkar di sekolah. Dan itu satu – satunya alasan yang mudahuntuk menenangkan hati orang tua. Aku agak senang mendengarnya. Karena pada umumnya anak – anak sebesar dia mendapat kesempatan mengadu jika dipukul kawannya. Semua murid menceritakan pengalamannya. Dan mereka juga selalu dusta kepada orang tuanya.
Sesaat kelas menjadi sepi. Karena Waskito mendengar, ada seoarang siswa berkata perlahan. Seorang murid berkata bahwa Waskito lebih baik tidak masuk saja, dan segera pindah. Dulu Waskito sudah di keluarkan dari sekolahnya. Dia di keluarkan karena sering bolos.
Hari keempat jam pelajaran pertama, kelas yang tergabung di bawah pengasawanku sedang menerima pelajaran dari guru lain. Kepala Sekolah ke kantor wilayah. Untuk kedua kalinya, aku membuka kelasku secara sanati. Nama – nama sudah mulai kukenal. Bahkan beberapa murid sudah ku hafal tempat duduknya. Hari itu anak didikku yang bernama Waskito belum juga masuk.
Semua murid tidak ada yang tahu kenapa Waskito tidak masuk. Bahkan ketua kelaspun menghindari pandanganku. Tubuhnya beringsut ke kanan, ke kiri. Teman
disampingnya mengatakan sesuatu, mulutnya tidak pernah bergerak. Aku tidak dapat menerka satu katapun.
Ketua kelas akhirnya mau menjawab. Jawaban itu langsung jujur dan kedengeran keluar tanpa berfikir namun justru menambah rasa keherananku. Mengapa sejak tadi diam, pura – pura tidak mengenal tempat tinggal kawannya. Sekali lagi Raharjo menggerakan badan ke kanan, ke kiri. Aku merasa kasihan, mencoba mengalihkan perhatian. Saya mengajukan pertanyaan kepada murid – murid. Hampir semua murid laki – laki mengetahui tempat tinggalnya anak itu.


Dini, NH. 2003. Pertemuan Dua Hati. Jakarta: Pustaka Jaya.

0 komentar:

Poskan Komentar